Tampilkan postingan dengan label Jagakarsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jagakarsa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Juni 2025

Gigitan Terakhir : Sebuah Kisah Kehidupan Seorang Pedagang Kue Cubit.

 

          Ilustrasi diedit oleh Book cover
                Credits: Pixabay.com

📚 ALOHA..Baca Kuys!

Selamat malam teman-teman pembaca setia!
Pernah nggak sih kalian nyicipin kue cubit yang meleleh di mulut, bikin senyum-senyum sendiri ibarat ketemu dengan cinta pertama? 

Tapi… pernah nggak kalian kepikiran, siapa sosok di balik kue cubit itu? Apa yang dia korbankan? Apa yang dia perjuangkan demi satu loyang kecil penuh harapan?

Episode Kali ini ini penulis mau mengajak kalian semuanya menyelami kisah seorang pedagang sederhana. Bukan superhero, bukan artis, bukan orang viral—tapi beliau punya sesuatu yang mungkin mulai langka di dunia ini: 

ketulusan.

Episode kali ini bukan hanya soal jualan kue cubit di pinggir jalan. Ini tentang hidup. Tentang semangat. Tentang gigitan terakhir yang menyimpan kenangan, perjuangan, dan sebuah harapan yang diam-diam tumbuh di balik wajan panas.

Yuk, marilah kita duduk sebentar sembari menarik napas.

Karena cerita ini bisa jadi mengubah cara pandang kalian dalam melihat hal-hal kecil..
Untuk selamanya..!!



Berikut ini merupakan ringkasan cerita untuk episode kali ini:

Dikisahkan pada sore itu,terdapat sebuah aroma yang begitu asing namun menenangkan di tengah hiruk-pikuk kota di Jakarta Selatan, menerobos kesibukan Jagakarsa. Aroma tersebut adalah Aroma pandan bercampur dengan gula aren.

Di antara deru kendaraan dan keramaian kota, aroma itu menjadi sebuah oase kecil, mengarahkan langkah kaki pada sebuah gerobak tua yang sederhana namun kokoh di sudut jalan yang ramai.
Di atasnya, tertata rapi kue cubit mungil, buatan tangan Pak Dadang.
Dialah seorang seniman kue cubit yang ramah, bukanlah penduduk asli Jakarta yang bernama Pak Dadang.

Berasal dari sebuah desa kecil yang tenang yang terletak di daerah Kebumen, Jawa Tengah, bernama Desa Agropeni, yang menyimpan kenangan masa kecil di antara sawah dan ladang yang hijau.

Iapun mulai merantau ke Jakarta untuk mencari peruntungan di ibukota dengan tekad dan harapan yang membuncah.
Akhirnya Pilihannya tersebut jatuh di Jagakarsa, sebuah wilayah yang kini menjadi saksi bisu tentang perjuangannya.

 
Dengan Wajahnya, yang kini mulai dikerut usia, menyimpan cerita panjang yang terukir di setiap garisnya, sebuah peta perjalanan hidup yang penuh liku.
Dengan sangat cekatan,Tangannya yang terlihat kecil itu sangat terampil dalam menata kue-kue kecil itu, seolah dia menari mengikuti irama ibu kota yang tak pernah berhenti.

Sebelum merantau, Beliau ini merupakan sosok yang dikenal di desanya. Setelah sholat ashar di Musholla Al-Barokah, ia sering berbincang dengan seorang pria ramah bernama Pak Bedul, yang merupakan seorang Pak RT dikampung halamannya tersebut.

Bayangan masa lalu itu muncul sejenak saat ia mengingat percakapan terakhirnya dengan Pak Bedul sebelum keberangkatannya menuju ke Jakarta menggunakan sepur atau kereta api.

" Perjalananmu ke Jakarta bukanlah hal yang mudah. Ingatlah selalu pesan orang tuamu, dan jangan lupa untuk selalu berdoa ya, Nak Dadang," 

ujar Pak Bedul sembari menepuk pundak Pak Dadang dengan hangat.

"InsyaAllah, Pak Bedul. Saya akan selalu mengingat pesan dari Bapak,"

jawabnya dengan matanya berkaca-kaca sembari memeluk erat Pak RT, sebuah perpisahan yang sarat makna. Pak Bedul adalah sosok yang selalu mendukungnya, memberikan semangat dan doa restu.

Fyp alias seperti yang sudah kita semua ketahui bahwa Kue cubit buatan Pak Dadang bukanlah kue cubit biasa.
Rahasianya terletak pada sentuhan tangan dan pengalaman bertahun-tahun, sebuah warisan keterampilan dari tanah kelahirannya di Kebumen.

Bagian luarnya renyah, dengan tekstur berpori yang unik, hasil dari keahliannya dalam mengolah adonan dan mengatur suhu api.

Sementara itu, bagian dalamnya lembut dan sedikit kenyal, menyimpan manisnya gula aren pilihan yang terasa begitu autentik, sebuah cita rasa yang mengingatkan pada kampung halamannya.

Aroma harum yang semerbak daun pandan berpadu dengan wangi susu dan sedikit garam, menciptakan aroma yang begitu menggugah Dengan Ukurannya yang kecil, pas untuk sekali gigit, membuat setiap gigitan terasa sempurna.

Rasa manisnya pas di lidah, tanpa meninggalkan rasa lainnya yang eneg yang mengganggu. Warna kecokelatannya yang merata menandakan kematangan yang sempurna, bukti dari penguasaan teknik memanggang yang telah diasah selama puluhan tahun.

Setiap butir kue cubit itu yang dibuat oleh Pak Dadang tersebut menyimpan berbagai macam cerita, baik tentang perjuangan, kesabaran, dan ketekunan Pak Dadang dalam menjalani hidupnya di perantauan.

Cerita tentang keringat yang membasahi dahinya, tentang senyum yang selalu terukir di wajahnya meskipun beban hidup menimpanya.

Cerita tentang cinta dan dedikasinya pada sebuah keterampilan sederhana yang telah menghidupinya selama ini, sebuah keterampilan yang membawanya dari desa kecil di Kebumen hingga ke Jagakarsa, Jakarta Selatan.

"Gigitan Terakhir," bukan hanya tentang kelezatan kue cubit Pak Dadang, tetapi juga tentang perjalanan hidup seorang pedagang sederhana yang penuh liku dan pelajaran berharga.

Kisah yang akan mengungkap bagaimana sebuah kue kecil mampu menyimpan makna yang begitu besar.

Bagaimana aroma pandan dan gula aren mampu membawa kita pada perjalanan emosional yang tak terlupakan, dari sebuah desa kecil di daerah Jawa Tengah menuju ke hiruk-pikuk kota. Jakarta.

Apa yang akan terjadi selanjutnya,

Demikianlah sedikit ringkasan cerita untuk episode kali ini, sekian dan terima kasih.


Kalian juga dapat membaca cerita yang penulis buat ini pada akun Wattpad saya, dan berikut ini merupakan linknya:



Pertarungan kura-kura ninja vs Gundala dan aliansi di Negeri sakura

                .                Ilustrasi diedit oleh Book cover.                           Credits: Pixabay.com 📚 ALOHA..Baca Kuys! Selam...