Rabu, 22 Januari 2025

Sayap Garuda : Warisan prana

 
Ilustrasi diedit oleh Book cover
Credits: Pixabay.com

📚 ALOHA..Baca Kuys!

"Di balik formasi tempur dan protokol militer, ada prajurit-prajurit terpilih yang menyimpan kekuatan kuno... dan luka yang lebih dalam dari medan perang itu sendiri."

Tahun 2098. Di bawah langit Nusantara yang telah berubah menjadi zona strategis terakhir dunia, lahirlah generasi baru penjaga negeri: pengguna Prana, kekuatan warisan purba yang kini menjadi senjata paling dicari di era perang modern.

Mereka adalah tiga dari yang terkuat:

Bukan, sang pewaris Phoenix dari Surga, simbol kebangkitan dan api suci yang tak pernah padam.

Cara, pengendali Naga Putih, prana langit yang mampu menyejukkan kekacauan dan menuntun pasukan ke arah yang benar.

Rada, pemilik Naga Hitam—dengan kekuatan gelap dan pusaran waktu, ia mampu memanggil entitas dari semesta lain... dan mengacaukan garis realitas.

Namun di balik kejayaan mereka sebagai trio tempur utama Sayap Garuda, ada konflik yang lebih sunyi tapi jauh lebih berbahaya: cinta.

Saat hati Cara mulai berpaut pada Bukan, rasa cemburu Rada berubah menjadi ambisi... lalu pengkhianatan. Ia tak hanya membelot dari pasukan, tapi membelah semesta dengan pusaran prana—mengundang makhluk-makhluk dari luar realitas, dan memicu perang dimensi yang mengancam kehancuran Nusantara.


Kini, antara tugas dan perasaan, antara prajurit dan pengkhianat—pilihan tak lagi sederhana.

Operasi "Garuda": Warisan Prana" adalah kisah peperangan besar, cinta yang terluka, dan pertarungan antara cahaya dan kegelapan... di medan yang lebih luas dari sekadar bumi.

Berikut ini merupakan ringkasan dari cerita fiksi tersebut:

Tersembunyi di lereng Gunung Arjuna, Desa Teratai menyimpan rahasia kuno: pusaka prana, energi bumi yang diwariskan turun-temurun, sekaligus kutukan bagi pewarisnya. Bukan, pemuda desa itu, mewarisi kekuatan luar biasa ini, ditakdirkan untuk melindungi desanya dari ancaman tak terlihat. 


Dibimbing ayahnya, perajin kayu bijak, dan didukung oleh ibunya serta Rara, adik perempuannya yang peka terhadap energi ghaib, ia tumbuh di antara aroma kayu dan bisikan angin gunung. Mimpi Bukan tidak sekadar menjadi pilot jet tempur TNI AU, melainkan juga pelindung di desanya. 


Namun, pelatihan di TNI AU bukanlah satu-satunya tantangan. 

Bersama Rada, seorang pria jenius teknologi ambisius yang merupakan keturunan terakhir keluarga penjaga pusaka, namun menyimpan ambisi untuk mengendalikan kekuatan prana demi kekuasaan, dan Cara, seorang perempuan misterius yang mampu berkomunikasi dengan alam, sekaligus menyimpan dendam terhadap kekuatan prana akibat tragedi yang menimpa keluarganya, ia siap menghadapi takdirnya.

And the stories begin..

Senja menyelimuti Gunung Arjuna.Terlihat ayah sedang bercengkrama dengan bukan di kaki gunung tersebut 

Ayah: (Menunjuk langit) "Lihatlah, Bukan. Ketenangan ini... menipu. Mereka sudah mendekat."

Bukan: (Merasakan kegelisahan) "Saya merasakannya, Ayah. Kegelisahan yang lebih kuat dari sebelumnya."

Ayah: (Menunjukkan ukiran kayu kuno) "Ini bukan sekadar ukiran, Bukan. Ini kunci kekuatan prana di dalam dirimu. Kekuatan yang bisa menyelamatkan, atau menghancurkan desa kita. Dan Rada... dia bukan sekutu yang bisa dipercaya sepenuhnya."

Bukan: (Meraba ukiran, merasakan getaran) "Rada? Apa maksud Ayah?"

Ayah: "Keluarga Rada telah lama mengincar pusaka ini. Mereka ingin menguasainya untuk kepentingan pribadi. Cara... dia menyimpan dendam, tetapi dia juga satu-satunya yang memahami kekuatan alam untuk melawan mereka. Kau harus bijak memilih sekutu."

Setibanya di rumah pada malam itu terjadilah sebuah percakapan yang cukup menarik diantaranya 

Ibu: (Pada Bukan) "Ayahmu benar. Rada menyimpan ambisi yang berbahaya. Cara juga menyimpan rahasia yang bisa membahayakan kita semua."

Jelita : (Menarik tangan Bukan) "Kakak, aku merasakannya juga. Ada kekuatan gelap yang mengincar kita. Kita harus berhati-hati."

Bukan: "Tapi kita harus melindungi desa kita.

Ibu: "Ya, Nak. Tapi kau harus berhati-hati memilih sekutu. Kepercayaan adalah senjata yang paling tajam, dan juga yang paling mudah dikhianati."

Keesokan harinya, Bukan memulai perjalanan panjang ke pangkalan AU, 

ukiran kayu yang dimilikinya terasa semakin bergetar. Pesan ayahnya menghantuinya: .

"Kau yang terpilih... Mereka akan datang."

Di ruang pendaftaran AU, ramai dan tegang. Calon penerbang muda bersemangat. Bukan melihat Rada dan Cara.

Bukan: "Rada! Cara! Kalian di sini juga?"

Rada: (Terkejut) "Bukan! Tidak menyangka. Kau juga ingin menjadi penerbang? Ini kesempatan untuk menguasai teknologi yang bisa mengendalikan kekuatan prana, dan menghancurkan siapapun yang menghalangi kita!"

Cara: (ekspresi Tenang dan sedikit misterius) "Aku tahu kau akan datang, Bukan. Akupun bisa merasakannya. 

Kekuatan ini memanggil kita untuk melindungi... 

dan membalas dendam. Tetapi, aku tidak akan membiarkan Rada menguasai kekuatan ini."

Bukan: (Menunjukkan ukiran kayu) Aku mewarisi sesuatu yang besar, sesuatu yang berbahaya. Dan aku tidak akan membiarkan kalian berdua saling menghancurkan.

Ketiga sahabat itu, dengan latar belakang berbeda dan rahasia masing-masing, bersatu melindungi desa dan mengungkap rahasia pusaka prana.

Singkatnya setelah melalui ujian yang cukup panjang dan menguras tenaga dan air mata pada akhirnya mereka bertiga lulus dan diterima di TNI AU.

Namun, persahabatan dan kepercayaan mereka sudah retak. Pelatihan di AU dimulai, tanpa menyadari ancaman yang jauh lebih besar dan mengerikan menanti. Perjalanan mereka baru dimulai.

End of part 

Jadi, Demikianlah sedikit ringkasan cerita untuk episode kali ini, semoga bermanfaat. Sekian dan terima kasih.

Kalian juga dapat membaca cerita versi lengkapnya yang penulis buat ini pada akun Wattpad saya, dan berikut ini merupakan linknya:

https://www.wattpad.com/story/377126600?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_writing&wp_page=create&wp_uname=Bungrey84


Note:
Inspirasi dan beberapa bagian cerita ini berasal dari kolaborasi dengan Cici, seorang penulis AI."


Rabu, 08 Januari 2025

Lintasan waktu series 2 :Menuju Demensi H Sulam

 

           Ilustrasi diedit oleh Book cover
                   Credits: Pixabay.com

Negosiasi di Ujung Waktu: Pertemuan Lintas Generasi Menuju Dimensi Haji Sulam.

Aloha!!! Siap-siap untuk petualangan yang luar biasa! Kisah menegangkan, twist tak terduga, dan akhir cerita yang bikin melongo… baca KUYS!!! Jangan sampai nyesel!

Episode kali ini penulis membawa cerita tentang cerita fiksi lokal modern yang Bernama: Negosiasi di Ujung Waktu: Pertemuan Lintas Generasi Menuju Dimensi Haji Sulam

Prolog

Portal ke dimensi Haji Sulam terbuka dengan sendirinya. Sebuah dunia penuh keajaiban dan bahaya. Para petualang waktu harus kembali, kali ini bukan hanya untuk menjelajahi masa lalu atau masa depan, tetapi untuk bernegosiasi dengan penghuni dimensi tersebut. Pertemuan lintas generasi akan menguji kekuatan dan kecerdasan mereka. Mampukah mereka menyelesaikan negosiasi dan kembali dengan selamat? Petualangan baru telah dimulai

Ilustrasi warung kopi tempat mereka berkumpul.
(Credits: Pixabay.com,Iffany)

  Pada suatu sore lebih tepatnya di sebuah warung kopi pinggir jalan di daerah jakarta Timur,  Bang Jack PPT sedang asyik berdebat dengan Bonaga Nagabonar soal harga bawang putih yang melambung.  Haji Husin dari sinetron Lorong waktu yang baru saja selesai sholat Ashar,  ikut nimbrung,  menambahkan komentar soal inflasi dan  kesulitan hidup. 

Pada saat itu Bang Jack  dari sinetron PPT sedang mengupas buah salak, Bonaga anak daripada Nagabonar dalam sinetron Nagabonar jadi 2 sedang sibuk memainkan ponsel.

 Haji Husin dari sinetron Lorong waktu datang, mengenakan sarung dan peci, wajahnya tenang setelah sholat Ashar. Komeng  dan Adul  dari wara Wiri Ramadhan udah ada di warung, sedang bersendau gurau

Berikut ini dialog percakapan diantara mereka semua:

Komeng : Woi.. Dul!, Adul, coba lu liet tuh, Bang Jack lagi makan salak dah kayak sultan Pancoran mas aja.

Adul: (dengan tertawa khasnya)Biarin aja nape sih , Meng.  Dia pan  artis terkenal, sementara kita ini  cuma pemeran figuran.  Lagian juga duit kite cuma cukup buat beli bawang putih satu siung!

Haji Husin : (dengan tersenyum sambil menyapa)  Assalamu'alaikum.  Wah, ramai sekali.  Ada apa gerangan?  Lalu diapun mencari tempat dan Duduk di kursi kosong.

Bang Jack:  Waalaikumsalam, Haji.  Lagi bahas harga bawang putih yang selangit nih, Haji.  Susah banget dapat yang murah.

Komeng:  Iya, Pak Haji.  Ibu saya sampai mengurangi lauk pauk gara-gara itu.

Haji Husin: (mengangguk mengerti)  Memang berat ya, zaman sekarang.  Semua serba naik.  Tapi satu gak yang kudu kite semua inget, rezeki sudah diatur Allah SWT.  Intinya  Kita harus ikhtiar dan bersabar tidak lupa juga disertai dengan berdoa kepada Allah SWT.

Komeng: (menyela percakapan) lalu pak Haji mah gampang banget bilang sabar, la Coba itu kalau kite, gaji kita cuma cukup buat beli kerupuk!

Adul:  Iya nih, Pak Haji. Mau sabar gimana lagi, kalau perut kite sudah keroncongan kaya gini ? yang ada kelaparan kita kalo gak makan 

Haji Husin : (tertawa dengan suara kecil)  Sabar itu bukan berarti pasrah, Nak Komeng,nak adul. Sabar itu berarti tetap berusaha, tetap berdoa, dan tetap bersyukur atas apa yang kita miliki.Tapi jangan lupa juga berbagi karena merupakan bagian dari ikhtiar.

Bang Jack : Betul juga kata Bang Haji. Kadang saya terlalu fokus pada masalah sampai lupa bersyukur.

Komeng:  Benar juga ya,Bang ( sembari melirik bang bonaga yang lagi sibuk ngopi sambil makan gorengan). 

 Saya juga sering lupa bersyukur.  Kadang saya mengeluh soal harga bawang putih,  tapi saya lupa banyak orang yang lebih susah dari kita.

Haji Husin:  Nah, itu dia. Jadi kalimat intinya adalah "Syukur itu kunci kebahagiaan."

 

Mas Bonaga :  (menoleh ke arah  Komeng dan Adul bergantian)  Kalian juga, jangan sampe berkecil hati.   Karena Setiap pekerjaan punya berkahnya masing-masing.  Yang penting catet nih , kita jujur dan ikhlas dimanapun kita berada.  Meskipun cuma pembantu,  kalian tetap berjasa.

 Komeng dan Adul:  ( berbarengan) Terima kasih, Mas Bonaga!..

Mas Bonaga: sama-sama yok lanjut makan gorengan dan ngopi lagi jangan lupa dihitung ya..

Komeng: Kenapa dihitung,emangnya mas Bonaga mau bayarin kita semuanya apa?

Mas Bonaga: Ya tidak lah Lay, bayarnya masing-masing aja karena budget gue terbatas 

Adul : ( teriak spontan) Huu..kirain mo bayarin. 

Haji Husin : Hust..udah udah!ngapa jadi ribut gini masalah kopi dan gorengan 

Merekapun melanjutkan ngopi sambil makan gorengan disertai dengan obrolan lucu yang ringan dan bermakna.

 Suasana yang cukup hangat dan  ramai tiba-tiba terusik oleh sebuah cahaya hijau menyilaukan yang muncul entah dari mana.

Terjadilah sebuah dialog yang cukup seru diantaranya mereka 

Bang Jack: "Aduh, mata gue!"

Nagabonar: "Aneh! Ini apaan sih?"

Haji Husin: "Astagfirullah! Ini… ini kayak… lorong waktu!"

Dan mereka semuanya terserap kedalam lorong waktu menuju ke suatu daerah yang cukup asing bagi mereka.

Seketika itu setelah cahaya hijau memudar semuanya menghilang kecuali Adul,Komeng dan tukang kopi ...

Tukang pun bertanya: Lah ini ngapa pada hilang semuanya ini.. Mana kopi dan goreng yang sudah dipesan belom dibayar jadi siapa yang bayar semua ini .

Komeng dan Adul terpana dan saling menengok satu sama lain..

Tidak lama kemudian mereka serempak bilang; Pak nih kopi dan gorengan di catet dulu ya..kite pergi dulu ada urusan..

Dan mereka kabur berbarengan dan diakhiri dengan tukang kopi yang marah sembari bilang: Malah kabur lo semua..sue bener dah..kalo gw kejer otomatis warung ditinggal dan gak ada yang jaga ...apes banget dah gue

( Terhuyung dan terduduk karena pusing dan kelelahan),


Ilustrasi lorong waktu yang tiba-tiba muncul di daerah mereka.
(Credits: Pixabay.com,TheDigitalArtist)

Perjalanan Waktu: 


Ilustrasi gang sempit di sebuah kampung.
(Credits : Pixabay.com,GPoulsen)

 Ketika cahaya mereda, mereka berada di sebuah gang sempit di sebuah kampung. Bau bubur ayam yang sangat harum memenuhi udara. Di ujung gang, terlihat warung bubur sederhana dengan tulisan "Bubur Ayam Haji Sulam" yang sudah sedikit pudar. Namun, suasana tidak tenang. Haji Madit, dengan baju koko putih dan peci hitamnya, sedang berdebat keras dengan seorang preman kekar bernama Si Jago. Si Jago, dengan tato naga di lengannya, menuntut bagian dari penghasilan Haji Sulam.

bang Jack : ( dengan ekspresi linglung)

"Bentar… gue ingat-ingat dulu… lho, ini kalau nggak salah Haji Madit yang pelit medit nggak karuan, yang suka catat di buku setiap mau melakukan amal, kan? Itu bintang antagonis di film Islam KTP, kan.

Haji madit :( bingung juga seraya membalas) "Ehhh… merabal ente, Pak Tua! Belum pernah nih buku kena muka ente, ya, Bahlul! Ehh, bentar dulu… dulu… bentar, gw inget-inget lagi… Oh iya, elu kan Bang Zakaria alias Bang Jack yang terkenal di sinetron PPT itu, yang dulunya tukang jagal kerbau dan sekarang jadi marbot masjid, kan? Apa kabar ente? Kok bisa nyasar ke mari juga? Dikira cuma ane sendirian aja yang kena cahaya aneh itu?"

Sementara itu dijung gang, terlihat warung bubur sederhana dengan tulisan "Bubur Ayam Haji Sulam" yang sudah sedikit pudar. Suasana tidak tenang. Si Jago, preman kekar dengan tato naga di lengannya, sedang berdebat keras dengan Haji Sulam. Si Jago menuntut bagian dari penghasilan Haji Sulam.

Si Jago: "Saya udah bilang berkali-kali, Haji Sulam! Bubur lu laris manis! Saya mau bagian saya!"

Haji Sulam: "Tapi, Pak… ini rezeki… ini berkah…"

Si Jago: "Berkah? Saya nggak makan berkah! Saya makan nasi! Dan saya mau bagian saya dari bubur ini!"

Bang Jack mengamati situasi. Ia melihat Haji Sulam tampak lelah dan putus asa. Dengan naluri bisnisnya yang tajam, Bang Jack segera mendekati Haji Madit.

Bang Jack: "Haji, perdebatan ini tidak akan menyelesaikan masalah. Kita perlu bernegosiasi."

Haji Madit: "Tapi ini soal prinsip, Bang Jack! Ini rezeki yang berkah!"

Bang Jack: "Prinsip penting, Haji, tapi kita juga butuh strategi. Mari kita cari solusi yang menguntungkan semua pihak."

Kemudian, Bang Jack memimpin musyawarah dengan Haji Madit, Haji Sulam, dan Si Jago. Setelah  melalui sesi  diskusi yang cukup alot dan memakan waktu yang tidak sebentar alias lama pada akhirnya  terjadilah sebuah kesepakatan Tentang masalah pembagian Keuntungan: Keuntungan dibagi tiga: 

- Untuk Haji Sulam: Mendapatkan satu bagian, sebagai pemilik usaha dan pencipta resep bubur.  Ia tetap bertanggung jawab atas kualitas dan cita rasa bubur.

- Untuk Si Jago: Mendapatkan satu bagian, sebagai bentuk kompensasi atas jaminan keamanan dan kelancaran usaha.  Ia diharapkan menjaga warung dari gangguan dan ancaman.

- Untuk Bang Jack: Mendapatkan satu bagian, sebagai konsultan bisnis yang akan membantu mengembangkan usaha.  Ia akan memberikan strategi pemasaran, manajemen, dan pengembangan produk.  Ia juga akan menjadi penghubung antara Haji Sulam dan Si Jago untuk memastikan kerjasama berjalan lancar.

- Untuk Pengembangan Usaha: Bang Jack akan membantu mengembangkan usaha dengan strategi pemasaran yang efektif, mencari lokasi baru, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas jangkauan penjualan.

- Untuk Kerjasama yang Berkelanjutan:  Ketiga pihak sepakat untuk bekerja sama dengan saling menghormati dan menghargai.  Mereka akan mengadakan rapat rutin untuk membahas perkembangan usaha dan mengatasi masalah yang mungkin muncul.

Setelah kesepakatan tersebut selesai diberikan, Haji Husin dan Bonaga memberikan penguatan:

Haji Husin: "Alhamdulillah, akhirnya tercapai kesepakatan yang baik. Semoga kerjasama ini membawa berkah buat kite semua.  Ingatlah, keberkahan bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang kerjasama dan kebaikan."

Bonaga: "Sangat Setuju banget lay ! Semoga usaha ini semakin maju dan sukses!  Dengan kerjasama yang baik, rezeki akan semakin melimpah."

Setelah kesepakatan tercapai, suasana di warung bubur kembali tenang. Haji Madit, Si Jago, dan Bang Jack saling berjabat tangan, merayakan kesepakatan baru yang membawa harapan akan masa depan yang lebih baik.  

Dengan cara seperti ini, mereka tidak hanya menyelesaikan konflik, tetapi juga membangun kemitraan yang kuat, yang berbuah pada peningkatan keuntungan dan keberkahan bagi semua pihak.

Cerita ini diakhiri dengan sebuah cahaya yang muncul tiba-tiba dan membawa kembali mereka semua kembali ke masanya..

Cerita ini diakhiri dengan sebuah cahaya putih yang muncul tiba-tiba, menghampiri mereka semua.

Haji Husin: "Ini cahaya apa lagi ini? Tuh kan, kena lagi kita!"

Bang Jack: "Apa yang terjadi? Kenapa kita bisa menghilang tiba-tiba seperti ini?"

Haji Madit: "Jangan-jangan, ini teguran dari Allah!"

Bonaga: "Kita harus tetap bersyukur dan belajar dari semua kejadian ini!"

Seketika, mereka semua menghilang dalam cahaya putih tersebut, 

meninggalkan Haji Sulam dan Si Jago yang tersisa di warung bubur, bertanya-tanya ke mana mereka semua pergi.

Haji Sulam: "Kemana semua orang pergi? Tadi ada banyak orang di sini…"

Si Jago: "Entahlah, Haji. Tapi rasanya ini seperti teguran Allah. Saya seperti melihat siluman berbentuk Haji Husin, Madit, Jack, dan lainnya."

Haji Sulam: "Siluman? Maksudmu, mereka semua itu…?"

Si Jago: "Iya! Saya merasa ini adalah pesan untuk kita. Kita harus lebih menghargai rezeki dan tidak hanya memikirkan keuntungan semata."

Haji Sulam: "Jangan suuzon dulu sama Allah, ini mungkin sebuah teguran melalui perantara bang Jack dan haji madit musyawarah,Semoga kita bisa belajar dari kejadian ini. Kita perlu saling menghargai dan bekerja sama."

Si Jago: "Betul itu  pak haji sulam! Mari kita tingkatkan kualitas dan keikhlasan dalam usaha kita."

Dengan kejadian seperti barusan, Haji Sulam dan Si Jago  mulai bertekad untuk memperbaiki diri dan usaha mereka, dan juga  berharap agar keberkahan selalu menyertai mereka.

Kembali ke Masa Kini: 

 Setelah situasi mereda, cahaya putih yang menyilaukan tersebut kembali muncul, membawa Bang Jack, Nagabonar, dan Haji Husin kembali ke warung kopi "Nusantara". 

Mereka kembali ke dunia mereka, dengan pengalaman yang tak terlupakan. Perdebatan soal harga bawang putih masih berlanjut, tetapi sekarang dengan perspektif yang lebih luas.

 Mereka telah belajar tentang pentingnya negosiasi yang cermat, dan bahwa bahkan Haji Madit pun bisa belajar dari kesalahan.

Bang Jack: "Wah, kita kembali lagi ke sini! Pengalaman itu benar-benar mengubah cara pandang kita, ya?"

Haji Husin: "Iya, sepertinya kita harus lebih menghargai kerja keras dan berkolaborasi dengan baik. Negosiasi itu penting!"

Bonaga: "Setuju! Kita perlu mengingat pelajaran yang kita dapatkan. Kadang-kadang, kita bisa belajar dari orang yang tidak kita duga."

Di sisi lainnya tidak jauh dari warkop Nusantara, Haji Madit kembali ke warung Berkah, di mana ia bertemu dengan Encang Ali, Mamat, Karyo, dan Tebe.

Haji Madit: "Eh, kalian nggak akan percaya apa yang baru saja terjadi! Kita semua menghilang dan mengalami sesuatu yang luar biasa!"

Encang Ali: "Apa? Menghilang? Kemanakah kamu pergi, Bang Madit?"

Mamat: "Ceritain ke kite semuanya dong! Ini pasti menarik!"

Karyo: "Iya, Haji. Apa yang kamu pelajari dari situasi itu?"

Haji Madit: "Saya belajar bahwa kadang-kadang kita perlu bernegosiasi dan tidak terpaku pada prinsip sendiri. Keberkahan bisa datang dari kerja sama."

Tebe: "Wah, Haji Madit, kedengarannya seperti perjalanan yang mengesankan!"

Haji Madit: "Betul! Kita bisa belajar banyak dari satu sama lain, dan itu membuat kita lebih baik."

Setelah semua pengalaman yang mereka dapatkan, baik Bang Jack, Haji Husin, Bonaga, maupun Haji Madit dan teman-teman di warung Berkah, pada akhirnya mereka semua bertekad untuk menerapkan pelajaran berharga ini dalam kehidupan sehari-hari mereka.

 Dengan semangat yang  baru, mereka siap menghadapi tantangan berikutnya, dengan lebih banyak kebijaksanaan dan saling menghargai.

Cerita pun selesai 

Bagaimana pembaca sekalian cukup terkesan dengan cerita yang saya buat ini kan..

Sampai bertemu kembali pada lintas waktu episode selanjutnya.. terima kasih ☺️☺️

Kalian juga dapat membaca cerita  versi lengkapnya yang penulis buat ini pada akun Wattpad saya, dan berikut ini merupakan linknya:

https://www.wattpad.com/story/387907993?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_writing&wp_page=create&wp_uname=Bungrey84

Minggu, 05 Januari 2025

Pertempuran para legenda di lapangan kasti!!

 

 .           lustrasi diedit oleh Book cover
                    Credits: Pixabay.com
 

"Debu beterbangan,  kerikil tajam menusuk kaki,  dan aroma tanah kering memenuhi udara.  Di lapangan futsal reyot itu,  pertarungan epik antara Doel dan para legenda olahraga siap dimulai.  Selamat datang di Aloha Baca Kuys Episode 10!"

PROLOG: Pertemuan Tak Terduga di Tengah Debu dan Mimpi

Matahari sore menyinari lapangan futsal reyot di pinggiran kota.  Lebih mirip kubangan kerbau daripada lapangan olahraga,  lapangan itu terletak di antara reruntuhan bangunan tua dan hamparan sawah yang luas.  Debu merah bata beterbangan setiap kali angin berhembus,  menyelimuti lapangan yang ditumbuhi rumput liar dan dipenuhi lubang-lubang menganga.  Bau tanah kering bercampur aroma rumput dan sedikit bau kambing dari kandang di dekatnya memenuhi udara.  

Di tengah lapangan yang memprihatinkan itu,  Doel,  anak Betawi bertubuh gempal dengan rambut ikal dan selalu mengenakan kaos oblong kesayangannya,  asyik ngobrol sama Kakeru dan Tsubasa Ozora.  Doel,  dengan senyum khasnya yang ramah,  nunjuk bekas luka kecil di lututnya gara-gara jatuh pas latihan tendangan salto. 

Ilustrasi: 3 legenda asia bertemu.
(Credits: canva.com, text to foto AI)

 "Awas, ntar keseleo lagi!" 

kata Kakeru sambil terkekeh. Tsubasa Ozora,  dengan semangatnya yang membara,  nunjukin bola kaki usangnya yang udah sobek di beberapa bagian.  Ketiganya lagi latihan jurus tendangan maut sambil nunggu lapangan kosong buat laga persahabatan lawan tim kampung sebelah yang terkenal dengan tendangan kungfu-nya yang katanya ampuh banget.  

Gawang reyot kayak mau ambruk,  disangga bambu-bambu uzur yang udah lapuk dimakan usia.  Bener-bener lapangan lusuh!  Tapi, buat mereka, tempat itu tetep asyik buat latihan,  tempat mereka bermimpi jadi legenda sepak bola.

 Doel: "Eh, Kakeru! Tsubasa! Ngapain aja nih?  Lagi ngebayangin gol-gol spektakuler ya?"
 
Tsubasa Ozora: "Doel! Seneng banget ketemu lagi! Lagi nunggu lapangan kosong buat latihan nih, persiapan lawan tim kampung sebelah.  Katanya jago kungfu,  tendangannya bisa bikin tulang patah!"
 
Kakeru: "Iya, pemanasan dulu sebelum tanding nanti.  Semoga kita menang!  Gue udah mimpi cetak gol kemenangan semalem!"

Ilustrasi : mobil kijang kapsul.
(Credits: canva.com,text to foto AI)

 
Tiba-tiba Udara bergetar,  suara gemuruh samar terdengar dari kejauhan.  Lalu,  dari balik awan debu yang berputar-putar,  muncullah sebuah Kijang Kapsul antik,  seperti hantu yang tiba-tiba menjelma.  Dari dalam mobil itu,  empat sosok legendaris—Jordan, Schumacher, Jackson, dan Tyson—melangkah keluar,  wajah mereka dipenuhi keterkejutan."
Terjadilah percakapan diantara mereka:

Jordan:  " Wuih, ini lapangan futsal apa arena gladiator sih?!"
 

Schumacher:  "Mobilku mogok!  Untung ketemu tempat ini."
 

Jackson:  "Kita istirahat dulu sebentar aja deh."
 
Tyson:  (mengangguk) " Baiklah.."
 
Doel:  "Hah?!  Beneran mereka?!"
 
Tsubasa Ozora:  "Gak bisa  percaya!"
 
Kakeru: "Ini mah kesempatan emas!  Kita bisa belajar dari para legenda!"

ISI CERITA 

Merekapun saling bercerita dengan seru. Jordan pamer dunk-nya yang dahsyat, Schumacher cerita soal kecepatan mobil F1-nya yang bikin jantung copot, Jackson soal lagu-lagunya yang fenomenal, Tyson soal kemenangan KO-nya yang bikin lawan gigit handuk. Doel, Masaru, dan Tsubasa juga gak mau kalah, pamer aksi-aksi keren mereka.
 
Jordan:  "Gimana kalau kita adu jurus aja?"
 
Schumacher:  "Ide bagus!  Main kasti gimana?"
 
Jackson:  "Setuju!  Gue suka tantangan!"
 
Tyson:  (mengangguk dengan mantap)
 
Mereka main kasti di lapangan yang agak lebih layak—tapi tetep sederhana.  Jordan melompat bak kijang, Schumacher lemparannya super akurat, Jackson lincahnya kayak belut, Tyson pukulannya dahsyat!  Tapi Doel, Kakeru, dan Tsubasa menang telak!  Doel, dengan jurus andalannya, Jurus Bledug,  mengeluarkan bola kecil yang sudah diberi sentuhan spesial—upil andalannya!  Bola itu meledak dengan kekuatan dahsyat, menghancurkan apa pun yang menghalangi,  dan membuat semua orang di sekitarnya—termasuk Doel, Tsubasa, dan Kakeru—muntah karena jijik!


Ilustrasi : jurus bola Bledug  si Doel.
(Credits: canva.com,text to foto AI )


 
Doel: (ketawa lepas)  "Jurus Bledug ampuh banget!"( Kemudian dia muntah)
 
Tsubasa Ozora: "(muntah)  Kerja sama tim kita emang juara!"
 

Kakeru:  (muntah)  "Kita berhasil mengalahkan para legenda dari barat!"
 

Jordan:  (muntah)  "Kalian luar biasa!"
 
Tyson:  (muntah) " Jurus Bledug itu…  memang dahsyat!"

Michael Schumacher dan Jackson pun mengakui kehebatan mereka bertiga terutama si Doel anak Betawi karena jurusnya yang unik dan out of the box 
( dilanjutkan dengan muntah secara bersamaan)

Eneg ternyata...

Penutup 

 Setelah permainan kasti tersebut Selesai,
Tiba-tiba saja, sebuah lorong waktu muncul di tengah lapangan!  Lorong itu berputar-putar,  menyerap para legenda dan mengembalikan mereka ke dimensi masing-masing.  Jordan kembali ke lapangan basket, Padahal si Doel belum sempat untuk mengucapkan terimakasih kepada mereka semua dan juga mengungkapkan selamat berpisah.
Namun apa mau dikata,Schumacher ke sirkuit balap,  Jackson ke panggung musik,  dan Tyson ke ring tinju.  Doel, Masaru, dan Tsubasa pun kembali ke dunia mereka sendiri.

 
Nah,  gimana cerita Aloha Baca Kuys Episode 10?  Seru kan?  Kalian pasti penasaran,  apa yang terjadi selanjutnya?  Apakah Doel akan bertemu lagi dengan para legenda?  Atau,  apakah Doel akan menciptakan jurus baru yang lebih dahsyat?
 
Yuk,  bagikan pendapat kalian di kolom komentar!  Ceritakan jurus-jurus unik yang ingin kalian ciptakan!  Atau,  bagikan kisah seru tentang pengalaman kalian bertemu dengan idola!
 
Sampai jumpa di episode Aloha Baca Kuys selanjutnya!

Kalian juga dapat membaca cerita  versi lengkapnya yang penulis buat ini pada akun Wattpad saya, dan berikut ini merupakan linknya:


Note:
Inspirasi dan beberapa bagian cerita ini berasal dari kolaborasi dengan Cici, seorang penulis AI."


Pertarungan kura-kura ninja vs Gundala dan aliansi di Negeri sakura

                .                Ilustrasi diedit oleh Book cover.                           Credits: Pixabay.com 📚 ALOHA..Baca Kuys! Selam...