Ilustrasi diedit oleh Book cover
Negosiasi di Ujung Waktu: Pertemuan Lintas Generasi Menuju Dimensi Haji Sulam.
Aloha!!! Siap-siap untuk petualangan yang luar biasa! Kisah menegangkan, twist tak terduga, dan akhir cerita yang bikin melongo… baca KUYS!!! Jangan sampai nyesel!
Episode kali ini penulis membawa cerita tentang cerita fiksi lokal modern yang Bernama: Negosiasi di Ujung Waktu: Pertemuan Lintas Generasi Menuju Dimensi Haji Sulam
Prolog
Portal ke dimensi Haji Sulam terbuka dengan sendirinya. Sebuah dunia penuh keajaiban dan bahaya. Para petualang waktu harus kembali, kali ini bukan hanya untuk menjelajahi masa lalu atau masa depan, tetapi untuk bernegosiasi dengan penghuni dimensi tersebut. Pertemuan lintas generasi akan menguji kekuatan dan kecerdasan mereka. Mampukah mereka menyelesaikan negosiasi dan kembali dengan selamat? Petualangan baru telah dimulai
![]() |
| Ilustrasi warung kopi tempat mereka berkumpul. (Credits: Pixabay.com,Iffany) |
Pada suatu sore lebih tepatnya di sebuah warung kopi pinggir jalan di daerah jakarta Timur, Bang Jack PPT sedang asyik berdebat dengan Bonaga Nagabonar soal harga bawang putih yang melambung. Haji Husin dari sinetron Lorong waktu yang baru saja selesai sholat Ashar, ikut nimbrung, menambahkan komentar soal inflasi dan kesulitan hidup.
Pada saat itu Bang Jack dari sinetron PPT sedang mengupas buah salak, Bonaga anak daripada Nagabonar dalam sinetron Nagabonar jadi 2 sedang sibuk memainkan ponsel.
Haji Husin dari sinetron Lorong waktu datang, mengenakan sarung dan peci, wajahnya tenang setelah sholat Ashar. Komeng dan Adul dari wara Wiri Ramadhan udah ada di warung, sedang bersendau gurau
Berikut ini dialog percakapan diantara mereka semua:
Komeng : Woi.. Dul!, Adul, coba lu liet tuh, Bang Jack lagi makan salak dah kayak sultan Pancoran mas aja.
Adul: (dengan tertawa khasnya)Biarin aja nape sih , Meng. Dia pan artis terkenal, sementara kita ini cuma pemeran figuran. Lagian juga duit kite cuma cukup buat beli bawang putih satu siung!
Haji Husin : (dengan tersenyum sambil menyapa) Assalamu'alaikum. Wah, ramai sekali. Ada apa gerangan? Lalu diapun mencari tempat dan Duduk di kursi kosong.
Bang Jack: Waalaikumsalam, Haji. Lagi bahas harga bawang putih yang selangit nih, Haji. Susah banget dapat yang murah.
Komeng: Iya, Pak Haji. Ibu saya sampai mengurangi lauk pauk gara-gara itu.
Haji Husin: (mengangguk mengerti) Memang berat ya, zaman sekarang. Semua serba naik. Tapi satu gak yang kudu kite semua inget, rezeki sudah diatur Allah SWT. Intinya Kita harus ikhtiar dan bersabar tidak lupa juga disertai dengan berdoa kepada Allah SWT.
Komeng: (menyela percakapan) lalu pak Haji mah gampang banget bilang sabar, la Coba itu kalau kite, gaji kita cuma cukup buat beli kerupuk!
Adul: Iya nih, Pak Haji. Mau sabar gimana lagi, kalau perut kite sudah keroncongan kaya gini ? yang ada kelaparan kita kalo gak makan
Haji Husin : (tertawa dengan suara kecil) Sabar itu bukan berarti pasrah, Nak Komeng,nak adul. Sabar itu berarti tetap berusaha, tetap berdoa, dan tetap bersyukur atas apa yang kita miliki.Tapi jangan lupa juga berbagi karena merupakan bagian dari ikhtiar.
Bang Jack : Betul juga kata Bang Haji. Kadang saya terlalu fokus pada masalah sampai lupa bersyukur.
Komeng: Benar juga ya,Bang ( sembari melirik bang bonaga yang lagi sibuk ngopi sambil makan gorengan).
Saya juga sering lupa bersyukur. Kadang saya mengeluh soal harga bawang putih, tapi saya lupa banyak orang yang lebih susah dari kita.
Haji Husin: Nah, itu dia. Jadi kalimat intinya adalah "Syukur itu kunci kebahagiaan."
Mas Bonaga : (menoleh ke arah Komeng dan Adul bergantian) Kalian juga, jangan sampe berkecil hati. Karena Setiap pekerjaan punya berkahnya masing-masing. Yang penting catet nih , kita jujur dan ikhlas dimanapun kita berada. Meskipun cuma pembantu, kalian tetap berjasa.
Komeng dan Adul: ( berbarengan) Terima kasih, Mas Bonaga!..
Mas Bonaga: sama-sama yok lanjut makan gorengan dan ngopi lagi jangan lupa dihitung ya..
Komeng: Kenapa dihitung,emangnya mas Bonaga mau bayarin kita semuanya apa?
Mas Bonaga: Ya tidak lah Lay, bayarnya masing-masing aja karena budget gue terbatas
Adul : ( teriak spontan) Huu..kirain mo bayarin.
Haji Husin : Hust..udah udah!ngapa jadi ribut gini masalah kopi dan gorengan
Merekapun melanjutkan ngopi sambil makan gorengan disertai dengan obrolan lucu yang ringan dan bermakna.
Suasana yang cukup hangat dan ramai tiba-tiba terusik oleh sebuah cahaya hijau menyilaukan yang muncul entah dari mana.
Terjadilah sebuah dialog yang cukup seru diantaranya mereka
Bang Jack: "Aduh, mata gue!"
Nagabonar: "Aneh! Ini apaan sih?"
Haji Husin: "Astagfirullah! Ini… ini kayak… lorong waktu!"
Dan mereka semuanya terserap kedalam lorong waktu menuju ke suatu daerah yang cukup asing bagi mereka.
Seketika itu setelah cahaya hijau memudar semuanya menghilang kecuali Adul,Komeng dan tukang kopi ...
Tukang pun bertanya: Lah ini ngapa pada hilang semuanya ini.. Mana kopi dan goreng yang sudah dipesan belom dibayar jadi siapa yang bayar semua ini .
Komeng dan Adul terpana dan saling menengok satu sama lain..
Tidak lama kemudian mereka serempak bilang; Pak nih kopi dan gorengan di catet dulu ya..kite pergi dulu ada urusan..
Dan mereka kabur berbarengan dan diakhiri dengan tukang kopi yang marah sembari bilang: Malah kabur lo semua..sue bener dah..kalo gw kejer otomatis warung ditinggal dan gak ada yang jaga ...apes banget dah gue
( Terhuyung dan terduduk karena pusing dan kelelahan),
![]() |
| Ilustrasi lorong waktu yang tiba-tiba muncul di daerah mereka. (Credits: Pixabay.com,TheDigitalArtist) |
Perjalanan Waktu:
![]() |
| Ilustrasi gang sempit di sebuah kampung. (Credits : Pixabay.com,GPoulsen) |
Ketika cahaya mereda, mereka berada di sebuah gang sempit di sebuah kampung. Bau bubur ayam yang sangat harum memenuhi udara. Di ujung gang, terlihat warung bubur sederhana dengan tulisan "Bubur Ayam Haji Sulam" yang sudah sedikit pudar. Namun, suasana tidak tenang. Haji Madit, dengan baju koko putih dan peci hitamnya, sedang berdebat keras dengan seorang preman kekar bernama Si Jago. Si Jago, dengan tato naga di lengannya, menuntut bagian dari penghasilan Haji Sulam.
bang Jack : ( dengan ekspresi linglung)
"Bentar… gue ingat-ingat dulu… lho, ini kalau nggak salah Haji Madit yang pelit medit nggak karuan, yang suka catat di buku setiap mau melakukan amal, kan? Itu bintang antagonis di film Islam KTP, kan.
Haji madit :( bingung juga seraya membalas) "Ehhh… merabal ente, Pak Tua! Belum pernah nih buku kena muka ente, ya, Bahlul! Ehh, bentar dulu… dulu… bentar, gw inget-inget lagi… Oh iya, elu kan Bang Zakaria alias Bang Jack yang terkenal di sinetron PPT itu, yang dulunya tukang jagal kerbau dan sekarang jadi marbot masjid, kan? Apa kabar ente? Kok bisa nyasar ke mari juga? Dikira cuma ane sendirian aja yang kena cahaya aneh itu?"
Sementara itu dijung gang, terlihat warung bubur sederhana dengan tulisan "Bubur Ayam Haji Sulam" yang sudah sedikit pudar. Suasana tidak tenang. Si Jago, preman kekar dengan tato naga di lengannya, sedang berdebat keras dengan Haji Sulam. Si Jago menuntut bagian dari penghasilan Haji Sulam.
Si Jago: "Saya udah bilang berkali-kali, Haji Sulam! Bubur lu laris manis! Saya mau bagian saya!"
Haji Sulam: "Tapi, Pak… ini rezeki… ini berkah…"
Si Jago: "Berkah? Saya nggak makan berkah! Saya makan nasi! Dan saya mau bagian saya dari bubur ini!"
Bang Jack mengamati situasi. Ia melihat Haji Sulam tampak lelah dan putus asa. Dengan naluri bisnisnya yang tajam, Bang Jack segera mendekati Haji Madit.
Bang Jack: "Haji, perdebatan ini tidak akan menyelesaikan masalah. Kita perlu bernegosiasi."
Haji Madit: "Tapi ini soal prinsip, Bang Jack! Ini rezeki yang berkah!"
Bang Jack: "Prinsip penting, Haji, tapi kita juga butuh strategi. Mari kita cari solusi yang menguntungkan semua pihak."
Kemudian, Bang Jack memimpin musyawarah dengan Haji Madit, Haji Sulam, dan Si Jago. Setelah melalui sesi diskusi yang cukup alot dan memakan waktu yang tidak sebentar alias lama pada akhirnya terjadilah sebuah kesepakatan Tentang masalah pembagian Keuntungan: Keuntungan dibagi tiga:
- Untuk Haji Sulam: Mendapatkan satu bagian, sebagai pemilik usaha dan pencipta resep bubur. Ia tetap bertanggung jawab atas kualitas dan cita rasa bubur.
- Untuk Si Jago: Mendapatkan satu bagian, sebagai bentuk kompensasi atas jaminan keamanan dan kelancaran usaha. Ia diharapkan menjaga warung dari gangguan dan ancaman.
- Untuk Bang Jack: Mendapatkan satu bagian, sebagai konsultan bisnis yang akan membantu mengembangkan usaha. Ia akan memberikan strategi pemasaran, manajemen, dan pengembangan produk. Ia juga akan menjadi penghubung antara Haji Sulam dan Si Jago untuk memastikan kerjasama berjalan lancar.
- Untuk Pengembangan Usaha: Bang Jack akan membantu mengembangkan usaha dengan strategi pemasaran yang efektif, mencari lokasi baru, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas jangkauan penjualan.
- Untuk Kerjasama yang Berkelanjutan: Ketiga pihak sepakat untuk bekerja sama dengan saling menghormati dan menghargai. Mereka akan mengadakan rapat rutin untuk membahas perkembangan usaha dan mengatasi masalah yang mungkin muncul.
Setelah kesepakatan tersebut selesai diberikan, Haji Husin dan Bonaga memberikan penguatan:
Haji Husin: "Alhamdulillah, akhirnya tercapai kesepakatan yang baik. Semoga kerjasama ini membawa berkah buat kite semua. Ingatlah, keberkahan bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang kerjasama dan kebaikan."
Bonaga: "Sangat Setuju banget lay ! Semoga usaha ini semakin maju dan sukses! Dengan kerjasama yang baik, rezeki akan semakin melimpah."
Setelah kesepakatan tercapai, suasana di warung bubur kembali tenang. Haji Madit, Si Jago, dan Bang Jack saling berjabat tangan, merayakan kesepakatan baru yang membawa harapan akan masa depan yang lebih baik.
Dengan cara seperti ini, mereka tidak hanya menyelesaikan konflik, tetapi juga membangun kemitraan yang kuat, yang berbuah pada peningkatan keuntungan dan keberkahan bagi semua pihak.
Cerita ini diakhiri dengan sebuah cahaya yang muncul tiba-tiba dan membawa kembali mereka semua kembali ke masanya..
Cerita ini diakhiri dengan sebuah cahaya putih yang muncul tiba-tiba, menghampiri mereka semua.
Haji Husin: "Ini cahaya apa lagi ini? Tuh kan, kena lagi kita!"
Bang Jack: "Apa yang terjadi? Kenapa kita bisa menghilang tiba-tiba seperti ini?"
Haji Madit: "Jangan-jangan, ini teguran dari Allah!"
Bonaga: "Kita harus tetap bersyukur dan belajar dari semua kejadian ini!"
Seketika, mereka semua menghilang dalam cahaya putih tersebut,
meninggalkan Haji Sulam dan Si Jago yang tersisa di warung bubur, bertanya-tanya ke mana mereka semua pergi.
Haji Sulam: "Kemana semua orang pergi? Tadi ada banyak orang di sini…"
Si Jago: "Entahlah, Haji. Tapi rasanya ini seperti teguran Allah. Saya seperti melihat siluman berbentuk Haji Husin, Madit, Jack, dan lainnya."
Haji Sulam: "Siluman? Maksudmu, mereka semua itu…?"
Si Jago: "Iya! Saya merasa ini adalah pesan untuk kita. Kita harus lebih menghargai rezeki dan tidak hanya memikirkan keuntungan semata."
Haji Sulam: "Jangan suuzon dulu sama Allah, ini mungkin sebuah teguran melalui perantara bang Jack dan haji madit musyawarah,Semoga kita bisa belajar dari kejadian ini. Kita perlu saling menghargai dan bekerja sama."
Si Jago: "Betul itu pak haji sulam! Mari kita tingkatkan kualitas dan keikhlasan dalam usaha kita."
Dengan kejadian seperti barusan, Haji Sulam dan Si Jago mulai bertekad untuk memperbaiki diri dan usaha mereka, dan juga berharap agar keberkahan selalu menyertai mereka.
Kembali ke Masa Kini:
Setelah situasi mereda, cahaya putih yang menyilaukan tersebut kembali muncul, membawa Bang Jack, Nagabonar, dan Haji Husin kembali ke warung kopi "Nusantara".
Mereka kembali ke dunia mereka, dengan pengalaman yang tak terlupakan. Perdebatan soal harga bawang putih masih berlanjut, tetapi sekarang dengan perspektif yang lebih luas.
Mereka telah belajar tentang pentingnya negosiasi yang cermat, dan bahwa bahkan Haji Madit pun bisa belajar dari kesalahan.
Bang Jack: "Wah, kita kembali lagi ke sini! Pengalaman itu benar-benar mengubah cara pandang kita, ya?"
Haji Husin: "Iya, sepertinya kita harus lebih menghargai kerja keras dan berkolaborasi dengan baik. Negosiasi itu penting!"
Bonaga: "Setuju! Kita perlu mengingat pelajaran yang kita dapatkan. Kadang-kadang, kita bisa belajar dari orang yang tidak kita duga."
Di sisi lainnya tidak jauh dari warkop Nusantara, Haji Madit kembali ke warung Berkah, di mana ia bertemu dengan Encang Ali, Mamat, Karyo, dan Tebe.
Haji Madit: "Eh, kalian nggak akan percaya apa yang baru saja terjadi! Kita semua menghilang dan mengalami sesuatu yang luar biasa!"
Encang Ali: "Apa? Menghilang? Kemanakah kamu pergi, Bang Madit?"
Mamat: "Ceritain ke kite semuanya dong! Ini pasti menarik!"
Karyo: "Iya, Haji. Apa yang kamu pelajari dari situasi itu?"
Haji Madit: "Saya belajar bahwa kadang-kadang kita perlu bernegosiasi dan tidak terpaku pada prinsip sendiri. Keberkahan bisa datang dari kerja sama."
Tebe: "Wah, Haji Madit, kedengarannya seperti perjalanan yang mengesankan!"
Haji Madit: "Betul! Kita bisa belajar banyak dari satu sama lain, dan itu membuat kita lebih baik."
Setelah semua pengalaman yang mereka dapatkan, baik Bang Jack, Haji Husin, Bonaga, maupun Haji Madit dan teman-teman di warung Berkah, pada akhirnya mereka semua bertekad untuk menerapkan pelajaran berharga ini dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Dengan semangat yang baru, mereka siap menghadapi tantangan berikutnya, dengan lebih banyak kebijaksanaan dan saling menghargai.
Cerita pun selesai
Bagaimana pembaca sekalian cukup terkesan dengan cerita yang saya buat ini kan..
Sampai bertemu kembali pada lintas waktu episode selanjutnya.. terima kasih ☺️☺️
Kalian juga dapat membaca cerita versi lengkapnya yang penulis buat ini pada akun Wattpad saya, dan berikut ini merupakan linknya:




Tidak ada komentar:
Posting Komentar